Kamis, 07 Juli 2011

Kisah 'Keringat' Zainuddin M.Z di Masjid Fajrul Islam

Ribuan pelayat mengiringi pemakaman jenasah KH. Zainuddin MZ 
Di depan rumah KH Zainuddin M.Z. terdapat masjid yang cukup megah. Dulu kondisinya tak semegah sekarang. Renovasi tempat ibadah itu diprakarsai Zainuddin. Alasannya, dia malu rumahnya lebih megah daripada masjid tersebut.



------------------------------ -------------
DHIMAS G.-THOMAS K., Jakarta
------------------------------ ------------
Fajrul Islam, nama masjid itu, berada di tengah gang yang lebarnya hanya sekitar empat meter. Bangunannya paling megah jika dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya, di Jalan Gandaria Gang H Aom, Jakarta Selatan.

Warga yang tinggal di sekitar masjid itu pasti tahu betul bahwa bangunan tersebut identik dengan dai kondang KH Zainuddin M.Z. Apalagi, masjid tersebut berada di depan rumah Zainuddin. Tak sampai 20 meter jaraknya.

Masjid itu merupakan renovasi dari masjid lama yang dibangun pada 1990. Zainuddin-lah yang memutuskan untuk membongkar total masjid tersebut karena sungkan rumahnya ternyata jauh lebih bagus. "Rumahku kok lebih bagus daripada masjid ya," kata Zainuddin kala itu awal 2000 sebagaimana ditirukan Sudalno, pembantunya. Lantaran merasa tidak pantas rumahnya lebih bagus daripada masjid itu, Zainuddin merenovasi Masjid Fajrul Islam pada 2004.

Ketika awal-awal akan merenovasi masjid itu, Zainuddin paham bahwa biaya yang dikeluarkan pasti akan besar. Saat itu Zainuddin sempat menghitung dan memperkirakan butuh duit sekitar Rp 3,6 miliar.

Lantas, bagaimana cara Zainuddin mengumpulkan uang sebanyak itu" H Fatullah Zailani, anak angkat Zainuddin, menceritakan bahwa salah satu cara yang dilakukan ayah angkatnya adalah mengundang para pejabat dan figur publik untuk datang ke masjid tersebut. Itu dilakukan setiap ada peringatan hari besar Islam. Para pejabat dan figur publik itulah yang akhirnya ikut menyumbang untuk renovasi. "Tapi, dana dominan masih dari Pak Kiai (Zainuddin)," imbuhnya.

Salah seorang pejabat yang diundang datang ke masjid itu adalah Jusuf Kalla ketika menjadi wakil presiden. "Gubernur Jakarta Fauzi Bowo juga pernah datang," ujarnya. Meski cukup banyak pejabat dan figur publik yang datang ke masjid itu, bantuan dana tetap tidak lancar. Sebab, tidak semua yang datang ikut menyumbang.

Masjid itu mulai direnovasi pada 2004 dan kelar empat tahun kemudian (2008). Biayanya pun membengkak. Jika awalnya diperkirakan menelan dana sekitar 3,6 miliar, ternyata renovasi itu menghabiskan Rp 5 miliar. Lamanya proses renovasi, kata Fatullah yang juga sekretaris Masjid Fajrul Islam, tidak disebabkan masalah dana. Tapi, itu terjadi karena ulah kontraktor.

Kini Masjid Fajrul Islam sudah berdiri megah. Pada Maret 2010, masjid itu diresmikan Gubernur Jakarta Fauzi Bowo. Jika dulu hanya mampu memuat sekitar 600 jamaah, kini Masjid Fajrul Islam bisa menampung lebih dari seribu jamaah.

Kombinasi warna kalem hijau dan biru tampak enak dipandang. Lantai dasar masjid tersebut berfungsi sebagi tempat pertemuan. Karena bukan ruangan utama ibadah, tidak banyak ornamen yang dipasang untuk memperindah. Ruangan tersebut dibiarkan lapang tanpa karpet untuk beribadah. Di belakangnya terdapat tempat wudu pria dan wanita.

Untuk memasuki ruang ibadah utama, jamaah harus menaiki tangga. Terdapat empat pilar berdiameter sekitar 80 cm yang menopang kubah utama. Jendela besar dengan kaca berwarna-warni menambah kesan indah. Ukurannya yang besar membuat suasana masjid menjadi adem ketika semua jendela dibuka lebar.

Tidak hanya itu, bagian dalam kubah yang dilukis bermotif awan tersebut menjadi enak dipandang. Berbagai kaligrafi bertulisan Arab berwarna-warni menimbulkan efek elegan. "Sekarang masjidnya jauh lebih indah daripada rumah kami, seperti diharapkan ayah kami," tutur Fatullah.

Namun, kata Fatullah, mimpi Zainuddin tidak berhenti sampai di situ. Ada mimpi besar lainnya, yakni ingin membangun kawasan sekitar masjid menjadi kompleks pendidikan Islam terpadu seperti pondok pesantren. Saat ini, lanjut dia, konsep realisasi pendidikan itu mulai dilakukan.

Rencananya, masjid tersebut akan dikelilingi lembaga sekolah, mulai SD, SMP, hingga SMA. Saat ini Zainuddin sebenarnya sudah memiliki dua sekolah, yakni Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah Nurul Falah. Namun, tata letak keduanya belum sempurna betul di samping masjid.

Ada cerita tersendiri mengenai sekolah dan masjid tersebut. Fatullah yang ikut Zainuddin sejak kecil itu mengatakan, dua hal tersebut yang bisa membuat ayahnya mendapat julukan dai sejuta umat. Kalau masjid dibangun pada 1990, dua sekolah itu dirintis sejak 1973. "Sebelum di dunia dakwah, pendidikan adalah dunia Kiai," ungkapnya.

Anak pertama Zainuddin M.Z. Fikri Haikal menambahkan, cita-cita ayahnya itu yang kini harus dilanjutkan. Bagi dia dan adik-adiknya, bisa jadi hal itu bukan merupakan persoalan yang susah. Sebab, grand design kompleks pendidikan tersebut sudah ada. "Ayah ingin sekali memiliki pesantren, giliran kami yang akan meneruskan," ucapnya.

Si sulung itu juga paham betul bahwa ayahnya juga menginginkan ada rumah atau asrama bagi para santri kelak. Termasuk menjadikan pendidikan terpadu itu sebagai tempat berkumpul para kiai. Dengan begitu, pengaderan bisa dilakukan lebih sistematis. "Termasuk kalau wafat, kiai dimakamkan di sini (Masjid Fajrul Islam)," ujarnya. Dan jenazah Zainuddin kemarin memang dimakamkan di kompleks masjid tersebut.

Kapan semua itu bisa diwujudkan" Fikri tidak tahu persis. Selain masih dalam kondisi berkabung, dia tahu betul bahwa mewujudkan kompleks pendidikan terpadu ala pesantren modern itu tidak mudah. Buktinya, hingga kini ayahnya belum berhasil mewujudkan itu. "Ayah bilang, membuat pesantren itu tidak semudah membalik telapak tangan," tuturnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...